Tokoh

Napak Tilas Dedikasi dan Pengabdian “Srikandi Maritim”

Chandra Motik

Di era modern saat ini, Kartini-Kartini tangguh terus menunjukkan eksistensinya. Chandra Motik, satu dari sedikit ahli hukum atau hukum maritim di Indonesia. Wanita cantik ini konsisten menggeluti bidang hukum maritim, bukan hanya karena passionnya, tetapi sebagai indikator keresahannya terhadap hukum maritim di Indonesia. Ia pun dijuluki “Srikandi Maritim” yang menjiwai bidangnya dengan segenap cinta. Ketika berbicara hukum maritim di hadapannya, grafik adrenalin Chandra Motik akan langsung naik sebagai bentuk semangatnya untuk terus menggali lebih dalam lagi sisi hukum kelautan di Indonesia yang sangat luas.

Ibarat nahkoda yang tangguh melawan ganasnya ombak di lautan, begitulah sosok Chandra Motik, yang terus bertarung melawan ketidakadilan hukum maritim di tanah air. Dijumpai di sore hari yang sejuk di ruangan kantornya, wanita cantik kelahiran 18 Februari 1954 ini sangat antusias bicara soal hukum maritim.

Siapa sangka wanita yang murah senyum ini melabuhkan hatinya dalam  dunia kelautan, dan memutuskan untuk menggeluti bidang hukum maritim yang cukup jarang dilirik banyak orang dengan penuh  dedikasi dan pengabdian. Ia jatuh hati terhadap hukum maritim di Indonesia ketika pertama kali hadir di persidangan dalam kasus terkait hukum maritim.

“Musibah tenggelamnya KMP Tampomas II sekitar tahun 1981 yang memakan banyak korban jiwa saat itu menjadi musibah paling menghebohkan. Dari sinilah saya mulai tertarik menggeluti tentang hukum maritim. Jadi makin senang lihat laut,” ujar Chandra dengan senyumnya yang khas.

Saat itu, merupakan momen pertama kali bagi Chandra Motik berada di ruang persidangan. Ia melihat hakim yang sedang tidak memiliki mood untuk menyidangkan kasus. Ia juga menilai pengetahuan hakim tersebut tentang maritim belum memadai. Saat itulah, muncul dorongan dan keinginan kuatnya untuk belajar lagi tentang hukum maritim.

Chandra Motik mengakui awalnya bercita-cita untuk menjadi astronot. Namun istri dari Ing Yusuf Djemat yang menikah pada tahun 1983 ternyata berubah haluan dan menjatuhkan hatinya untuk menggeluti bidang hukum maritim. Motivasi kuat menjalani karir di bidang hukum maritim, tak hanya didorong oleh pengalamannya saat menghadiri sidang kasus musibah tenggelamnya KMP Tampomas II, namun ia juga menyukai laut.

Baca Juga :  Chandra Motik: "Fight for the Justice”

“Saya senang laut. Apalagi lihat kapal, bisa menjelajah dunia. Dan jadi ingat cerita-cerita jaman dulu, seperti kehebatan Sriwijaya dan Majapahit. Ini jelas bukti sejarah, bahwa dulu itu Indonesia jaya lho jika di laut. Kok sekarang nggak. Dan setelah saya menyimak, ini karena paradigma kita masih di darat. Sedangkan lautnya masih kurang. Jadi, kalau beli kapal tidak boleh sedikit. Tapi karena masih belum bisa beli kapal, makanya jadi lawyer-nya saja dulu,” kata Chandra Motik tertawa lepas.

 “Laut Bagian Jiwa Srikandi Maritim”

Chandra Motik Menerima Penghargaan

Wanita cantik ini mewujudkan mimpinya sebagai seorang praktisi hukum maritim dengan mengambil kuliah di Fakultas Hukum UI. Ia pun menggali ilmu hukum laut. Namun, dia merasa heran, sebagai negara kepulauan, Indonesia hanya punya segelintir ahli hukum maritim, kalau tidak mau dianggap tidak ada.

Setelah lulus Fakultas Hukum UI tahun 1977, Chandra Motik melanjutkan studinya ke Berlitz Sprach Schule, Deeseldorf Jerman, University of Hamburg West Germany (Lecture’s Attendance). Kemudian mengambil magister di Kennedy-Western University, USA (Master of Science Degree /M.Sc.). Chandra Motik juga  mengambil program doktor di universitas yang sama, Kennedy-Western University USA, (Doctor of Phlisophy/Ph.D.).

Singkat cerita, Chandra Motik akhirnya bersama suami mendirikan kantor firma hukum sendiri, Chandra Motik Yusuf & Associates, di Jakarta Pusat. Sejak itulah, Chandra Motik menekuni berbagai kasus yang berkaitan dengan hukum laut.

Chandra Motik masih ingat,  di tahun 1981, ada beberapa kasus dan kejadian menarik mengenai hukum laut selain kasus KMP Tampomas II. Seperti kasus kapal milik Pelni, BUMN di bidang perhubungan yang terbakar di perairan Masalembo, perairan antara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. “Dari kasus-kasus yang ada, membuat saya jadi ingin terus belajar menggali lebih dalam lagi sisi hukum kelautan di Indonesia yang sangat luas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Menerobos Tradisi Memasuki Dunia Baru

Sebagai seorang praktisi hukum di dunia kelautan, ia menilai bidang  ini berperan sangat penting, apalagi melihat obsesi Presiden Jokowi mengenai Poros Maritim. Ia pun mengungkapkan bahwa di tahun 2004-2009, era ketika Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden, terjadi perbaikan yang cukup signifikan dalam dunia maritim di Indonesia. Chandra Motik pun sangat mengagumi Jusuf Kalla dan menjadi tokoh yang menurutnya patut diteladani, khususnya di dunia maritim.

“Sayangnya, setelah beliau tidak lagi menduduki posisi tersebut (2009-2014), sepertinya sudah mulai dilupakan lagi dunia kelautan. Tetapi saya berharap, dengan kembalinya Pak Jusuf Kalla menjadi Wapres sekarang ini, dunia kelautan khususnya hukum laut di Indonesia kembali mendapat perhatian yang signifikan. Apalagi kalau melihat obsesi pak Jokowi dengan Poros Maritim-nya,” kata Chandra Motik.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1977 mengantongi segudang prestasi fenomenal. Kesuksesan yang diraihnya pun tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan atau hanya sekadar mengharapkan bintang jatuh dari langit. Ia banyak menangani kasus-kasus seperti tabrakan kapal atau kapal penumpang yang terbakar dan menimbulkan korban jiwa, sehingga masuk ke ranah pidana.

“Saya melihat kalau ada kecelakaan kapal yang jatuh korban, nahkodanya pasti disalahkan, karena ada korban jiwa yang meninggal. Padahal belum tentu. Jadi, sebenarnya banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kita perbaiki di dunia kelautan. Tidak hanya sarana dan prasarana kapalnya saja, tapi hukumnya juga. Karena semua tidak akan berjalan tanpa ada kepastian hukum,” kata Chandra Motik.

Dari pemetaannya terhadap permasalahan maritim di Indonesia, menurut Chandra Motik, ada dua pekerjaan yang menjadi perhatian utama. Yakni hukum maritim Indonesia dan hukum kelautan.

“Kalau hukum laut Indonesia sudah dibuatkan draftnya. Saya diminta oleh Dewan Maritim Indonesia, sekarang namanya Dewan Kelautan Indonesia, sama teman-teman membuat draft itu. Sudah diterima di Baleg (Badan Legislasi DPR), tapi belum jadi-jadi,” kata Chandra Motik yang menyayangkan kinerja DPR yang belum juga merampungkan draft hukum laut yang sudah mereka ajukan.

Baca Juga :  Menilik Lika – Liku Kisah Cinta Anna Mariana dan Tjokorda

Hingga kini ia masih menyimpan keresahan dengan kondisi hukum laut di Indonesia. Ia menemukan banyak hal menarik yang harus diperbaiki. Misalnya dalam pengangkutan barang lewat laut. Hampir setiap ada kasus penangkapan kapal yang tidak memiliki izin lengkap, maka yang disalahkan adalah kapal yang mengangkut barang tersebut. “Dianggap barang yang dibawa itu ilegal. Misalnya  illegal logging, seperti kayu. Jadi, dulu kalau kapal mengangkut kayu, tapi surat-suratnya tidak lengkap, maka langsung kapalnya ditahan. Padahal, menurut saya, tindakan itu salah. Begitu kapal sudah mendapatkan ijin berlayar, berarti kapalnya sudah layak untuk melaut. Sehingga tidak ada hubungannya dengan kargo. Kalau barangnya yang tidak punya surat, jangan kapalnya yang disita, melainkan barangnya itu yang disita,” katanya.

Wanita yang dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) ingin terus menjalani passion-nya di dunia hukum laut dan maritim dengan segenap cintanya. Ia menilai memang berat untuk menjalaninya dengan berbagai permasalahan yang ada. Tetapi laut sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Laut sudah menjadi bagian dari jiwa seorang “Srikandi Maritim” Indonesia, sehingga sesulit apapun tantangannya, ia akan tetap menjalani demi penegakan hukum di Indonesia.

Napak Tilas Dedikasi dan Pengabdian “Srikandi Maritim”
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top