Tokoh

Chandra Motik : Menjadi Pribadi yang Tak Pernah Menyerah

Chandra Motik adalah sosok yang tegas dengan jalan hidup yang sudah ia rencanakan dan dicita-citakan. Meskipun ayahnya ingin agar ia menjadi notaris saja, namun ia tetap dengan keputusannya untuk menjadi praktisi hukum.

Kendati tidak menjadi seorang notaris seperti keinginan ayahnya, namun Chandra Motik mengakui, didikan ayahnya yang keras yang membuat dia menjadi seorang wanita sukses dalam profesinya sebagai seorang lawyer di dunia kelautan.

“Terus terang, saya tidak akan pernah melupakan didikan dari Ayah. Meski mendidik dengan keras, orangnya tetap seorang pendidik yang baik.  Ayah tidak pernah membeda-bedakan pendidikan anak-anaknya. Tidak pernah membedakan apakah laki-laki atau perempuan. Apa pun itu namanya, selama anaknya mau sekolah, pasti Ayah akan memperjuangkannya habis-habisan sampai anaknya mendapatkan pendidikan yang baik,” kenangnya.

Ia pun mengenang masa kecilnya yang tidak akan dilupakan semasa hidup. Chandra Motik kecil termasuk anak yang bandel dan tomboy. “Bayangkan saja, pernah rambut saya itu pendek sekali. Kerjaannya naik motor terus. Sering berantem. Pokoknya tomboi banget-lah. Pernah suatu kali habis berantem, saya pulang ke rumah dan menangis. Tapi begitu di rumah bukannya dikasihani sama Ayah, malah sebaliknya. Ayah bilang supaya saya balik lagi dan lawan lagi orang itu. Dari situ saya belajar, Ayah mau supaya saya punya fighting spirit yang kuat,” ceritanya.

Ia pun termasuk bandel ketika remaja apalagi ketika duduk di bangku SMA. Saat temannya menolak memberikan contekan, ia tidak segan-segan menarik kepala temannya. “Makanya kalau ingat ternyata saya itu bandelnya setengah mati. Teman-teman saya sekarang saja sampai bingung melihat saya. Karena dulu Chandra Motik itu anak yang sangat bandel,” kenangnya.

Namun ada satu pengalaman yang membuatnya merasa takut untuk pertama kali. “Jujur saya mau katakan, ini pertama kalinya saya punya rasa takut. Waktu itu sekitar tahun 1975, saya pernah masuk lift suatu gedung di Singapura saat mau ke tempat teman. Tetapi karena hari sudahmalam tiba-tiba lift-nya mati. Ya ampun, itu peristiwa yang tidak akan saya lupakan. Mengerikan sekali. Karena dulu belum canggih. Sementara semua tombol sudah saya tekan, sampai saya habis akal tidak tahu lagi mau ngapain. Kalau berdua sih masih mendingNahini saya sendirian di dalam lift tersebut,” kata Chandra Motik tentang peristiwa yang membuatnya takut untuk pertama kalinya itu.

Chandra Motik bersyukur ada seseorang yang menolongnya. Ia tidak tahu persis orang tersebut dari lantai tujuh atau lantai delapan. Yang jelas, orang tersebut naik tangga dari bawah untuk menolongnya. “Itu pengalaman  yang tak terlupakan. Saya jadi mikir, seberani-beraninya saya, ternyata dengan kejadian initerbukti saya masih punya rasa takut juga,” katanya tergelak.

Ketika beranjak dewasa, Chandra Motik baru mengerti didikan yang ditanamkan sang ayah bahwa untuk menjalani hidup jangan pernah cepat putus asa. Dan jika mendapatkan hambatan, harus tetap dijalani. Bahkan, meski gagal sekali pun. Jangan pernah menyerah. Mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Ia pun menjadi pribadi yang fighter, tak pernah menyerah dengan keadaan.

Baca Juga :  Menerobos Tradisi Memasuki Dunia Baru

Merasakan Mukjizat saat Hamil

Ada momen berkesan yang dirasakan Chandra Motik mampu mengubah seluruh perilaku dan hidupnya ketika ia hamil anak kedua (laki-laki). Kebetulan anak pertama Chandra Motik seorang perempuan. Saat ia memeriksakan kandungannya ke dokter, ternyata setelah dokter melihat hasil foto,  lalu mengatakan bayinya perempuan. Dokter juga mengatakan kalau dia mengandung anak kembar yang ada dalam satu kantong dan sedang berebut makanan.

Sebelumnya ketika usia kandungannya masih tiga bulan, perut Chandra Motik memang sudah kelihatan besar sekali seperti lebih dari tiga bulan. Hanya saja waktu itu, dokter belum berani mengatakan kalau ia sedang hamil anak kembar.

 

Ketika usia kandungan lima bulan, dokter mengatakan kalau dia harus menjalani operasi caesar. Saya ingat betul, dokter sarankan supaya saya siapkan mental. Wah terus terang hati saya ketar-ketir, makanya saya jadi rajin sholat setiap hari. Setelah itu, saya beranikan diri untuk menceritakan kondisi yang ada ke bunda, mertua dan keluarga. Supaya semuanya ikut mendoakan saya dan anak yang lagi ada dalam kandungan saya. Syukurlah proses persalinan berjalan lancar dan tidak ada sedikitpun masalah,” kata Chandra Motik.

Chandra Motik percaya betul proses kelahirannya ketika itu adalah murni karena mukjizat Allah SWTKarena ketika dia mau melahirkan, dia sudah langsung berada pada fase pembukaan delapan. Sementara ketika itu jatuh pada hari Minggu sehingga tidak ada dokter yang bertugas saat itu.

“Dokter kemudian datang sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara pukul 12.00 WIB, saya sudah pembukaan 10. Dokter langsung memberi bantuan meski saya melahirkan sudah dengan kondisi ketuban pecah. Allah Maha Besar, semua karena kebesaran Allah. Awalnya saya diprediksi akan melahirkan caesar tapi semuanya dimudahkan. Saya benar-benar bersyukur untuk semua yang Allah kerjakan dan kedua anak saya pun lahir normal dengan sehat,” kata Chandra Motik dengan penuh rasa syukur.

Berbagai kejadian yang dialaminya, kata Chandra Motik, membuat dirinya membuat bertobat atas segala perilakunya yang bandel“Saya merasa, kalau bukan karena Allah, saya tidak mungkin bisa ada sampai hari ini. Dan saya tahu Allah mau berikan saya kesempatan untuk berubah. Saya pun berdoa supaya ketiga anak saya semuanya jadi anak yang baik, tidak bandel seperti ibunya,” terangnya.

Keluarga Selalu Mendukung

Keluarga Chandra Motik berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Kebetulan ia juga mendapatkan suami yang juga berasal dari Palembang. Keluarga mereka saling kenal lama, namun karena selalu terpisahkan sehingga ia dan suaminya saat masih kecil tidak pernah pernah bergaul atau bermain bersama.

Keponakan saya dulu menikah dengan kakaknya suami saya. Jadi masing-masing sudah tahulah. Tapi karena tidak pernah main bersamasehingga belum kenal dengan baik. Sampai mas Yusuf pergi ke Jerman terlebih dahulu untuk menjalani pendidikan. Setelah lulus SMA ia langsung ke sana. Sedangkan saya ke Jerman belakangan,” ungkap Chandra Motik.

Baca Juga :  Tokoh Bicara Tentang Mooryati Soedibyo

Ketika sama-sama belajar di Hamburg, Jerman, Chandra Motik juga tidak pernah bertemu dengan suaminya. “Lucunya, ketemunya itu justru saat kembali di Jakarta, tahun 1982-an. Hanya berselang sekitar satu tahun kemudian, kami berdua memutuskan untuk menikah. Tepatnya tahun 1983,” kenangnya.

Chandra Motik dan Suami

Chandra Motik mengakui, dari sisi karakter, keduanya sebenarnya berbeda sekali. Chandra mengakui, dia orang yang cerewet. Sebaliknya suaminya tipe lelaki pendiam. Dulusaya paling suka pergi kemana-mana. Tetapi suami malah tidak terlalu suka. Itulah dua hal yang berbeda di antara kami. Tetapi jadi ikatan yang sangat menarik karena bisa saling mengisi. Dan menurut saya, Allah sudah memberikan pasangan hidup yang terbaik buat saya,” katanya penuh rasa syukur.

Dukungan suami dan ketiga anaknya diakui Chandra Motik berperan penting dalam kesuksesan yang ia capai sekarang ini. Ia pun sangat bersyukur, karena keluarganya sangat mendukung untuk kemajuan kariernya.”Mereka sangat berharga buat hidup saya. Tanpa adanya dukungan dari suami dan anakanak tidak akan mungkin saya berhasil,” katanya dengan penuh keyakinan.

Maka dari itu, di tengah-tengah waktu bekerja yang sangat padatquality time bersama suami dan anak-anaknya  tetap menjadi prioritasnya. Setiap pekan, khususnya saat weekend, ia selalu bersama suami dan anak-anaknya. Entah itu di hari Sabtu atau hari Minggu. Namun, karena kini anak-anaknya sudah besar dan berkeluarga, untuk acara bersama harus direncanakan terlebih dahulu dan tidak bisa dilakukan secara mendadak.

“Saya juga harus pahami bahwa mereka mungkin sudah punya rencana untuk bersama dengan teman-temannya. Pengertian-pengertian inilah yang saya pupuk ke anak-anak sejak mereka kecil. Makanya, setelah mereka sudah besar seperti sekarang, bahkan setelah mereka menikah pun masih tetap jalan-jalan ke mal bersama saya,” kata Chandra Motik.

Dalam keluarga, Chandra Motik dan suami tercinta selalu mengajarkan kepada anak-anak arti dari kebersamaan. Kami satu paket untuk sama-sama mendidik anak-anak termasuk terhadap kami berdua untuk saling menghargai, saling menghormati dan saling mencintai satu sama lain,” tambahnya.

Pengacara Favorit Yap Thiam Hien

Saat ditanya siapa pengacara favoritnya, Chandra Motik dengan lugas menyebut nama Yap Thiam Hien. “Beliau benar-benar menjadi inspirasi saya. Sampai akhir hidupnya, beliau tahu benar komitmennya dan terus mengajari kita untuk menegakkan keadilan. Yap Thiam Hien tidak pernah tergiur dengan apa pun juga. Berbeda dengan jaman sekarang yang sudah seringkali kita lihat,” tegasnya.

“Perjalanan hidup Yap Thiam Hien benar-benar menginsipirasi saya untuk memutuskan menjadi praktisi hukum yang menangani kasus-kasus berat di dunia kelautan. Paling tidak, meski beda dengan apa yang Ayah saya mau, yah hanya beda tipislah. Karena yang terpenting ada juga anaknya yang berprofesi di dunia hukum,” kata Chandra Motik tergelak.

Meski memiliki kakak ipar seorang pengacara terkenal, namun dalam keluarga, hanya Chandra Motik yang benar-benar menjadi praktisi hukum. Khususnya hukum laut dan maritim. “Memang kakak (Denila Motik) dan adik saya (Faiza Motik) lulusan sarjana hukum. Tapi mereka tidak mengembangkannya sampai menjadi praktisi hukum seperti saya. Karena mereka lebih ke perusahaan,” katanya.

Baca Juga :  4 Terobosan Mooryati Soedibyo Dalam Hidupnya

Chandra Motik Bertugas

Dalam kehidupan sehari-hari, Chandra Motik tentu saja tidak selalu berkutat dengan kasus hukum yang ditangani. Ia juga meluangkan waktu untuk hobinya menulis dan mengajarBahkan, ada buku-buku yang sudah ia tulis. Selain itu, ia juga senang dengan kesenian khususnya kain songket. Nah, untuk hal ini saya punya galeri, punya salon-salonanlah. Pernah bersama teman-teman membuat songket terpanjang, kami dapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Panjangnya 12 meter-an dan kami membuatnya di Palembang,” katanya.

Pengalamannya ini ditularkan kepada temannya yang berasal dari Riau. Ia menyarankan agar membuat hal yang sama tapi yang lebih panjang. Ternyata saran Chandra Motik itu diikuti. Benar saja, sahabatnya itu berhasil mendapat rekor MURIkarena panjang songketnya sampai 17 meter. Belum selesai sampai di situ, teman saya buat lagi dengan ukuran 17 meter, 18 meter, 45 meter dan dapat MURI lagi. Saat pemberian penghargaandia undang saya sebagai tamu kehormatan,” katanya tergelak.

Chandra Motik juga senang traveling terutama melihat pemandangan laut. Suatu kali ada kejadian yang membuatnya terkagum-kagum saat berada di Pulau Seribu Jakarta. Ketika itu acara pra wedding anaknyaKata orang Pulau Seribu itu jelek, sudah rusadan segala macam. 

Hanya saja, ada nelayan saat itu yang mengajak saya ke pulau karang yang masih di Pulau Seribu. Wow, di situ saya bisa kasih makan ikan di tengah laut, di atas batu-batu karang dan ikannya terlihatn malah bergerak-gerak di kaki kita. Sepertinya tidak mungkin, but it is true,” kata Chandra Motik tentang pengalamannya yang tak terlupakan itu.

Pengalamannya itu membuat Chandra Motik merasakan betapa luar biasanya keindahan alam Indonesia, terutama laut dan segenap isinya.  Sebuah anugerah Tuhan yang sangat mengagumkanMenurutnya, sebagai orang yang besar Jakarta, dia tidak pernah tahu seumur hidupnya bahwa ada tempat sebagus dan seindah itu.

“Saya pernah ke Hawaii, dan banyak orang bangga sekali bisa ke sana. Tetapi sejujurnya menurut saya itu tidak ada apa-apanya. Jauh lebih bagus keindahan alam laut kita. Ini belum bicara lagi tentang keindahan Indonesia lainnya, seperti Wakatobi atau Raja Ampat. Indonesia itu luar biasa indah dan sangat mempesona,” kata Chandra Motik.

Tempat traveling paling berkesan bagi Chandra Motik adalah Pulau Dewata Bali. Nggak tahu juga sih. Padahalorang-orang ada yang mengaku bosan. Tapi bagi saya kalau sudah ke tempat itu rasanya suasana liburan terus. Meskipun lagi kerja, kalau namanya di Bali tetap saja suasananya liburan,” kata wanita yang gemar olahraga berenang.

Chandra Motik : Menjadi Pribadi yang Tak Pernah Menyerah
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top