Chandra Motik dan Jusuf Kalla
Tokoh

Chandra Motik: “Fight for the Justice”

Banyak kasus hukum laut atau maritim yang begitu menantang bagi Chandra Motik saat ditangani. Misalnya kapal Thailand yang berlayar dari Somalia ketika mau kembali ke negara asalnya. Pada waktu itu, melewati Selat Malaka, sekitar 50 mil dari luar laut kita.

Kapal itu ditangkap oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sebenarnya tidak berhak untuk melakukan penangkapan. Menariknya, mereka dituduh illegal fishing karena tertangkap tangan. “Sayangnya, mereka datang ke saya sudah terlambat. Kasusnya sudah bergulir, dan waktu itu sudah P2W. Saya sudah usahakan ke Kejaksaan, tapi memang susah. Karena formnya sudah masuk ke pengadilan juga,” katanya sedikit menyesal.

Chandra Motik Bertugas

Namun, Chandra Motik tak patah semangat dan melewati begitu saja kasus tersebut. Dia justru mempelajari dan mendalami kasus tersebut.“Ternyata mereka tidak illegal fishing seperti yang dituduhkan. Saya beranikan untuk meminta buktinya kepada pihak Kejaksaan. Apalagi mereka dari pihak asing. Sebagai seorang lawyer, saya tetap fight sepanjang itu untuk keadilan, apakah untuk pihak Indonesia maupun asing,” katanya tegas.

Chandra menilai, nahkoda dan awak kapal Thailand tersebut tidak diperlakukan dengan baik. Barang-barang mereka sudah disita, dan banyak perlakukan yang tidak pantas. Ia lalu menagih lagi untuk buktinya dan setelah melihat rekaman TV, ternyata waktu kapal dibawa di atas kapalnya tidak ada peralatan-peralatannya. Akhirnya setelah ia mengusut terus kasus ini dengan teliti, hasilnya mereka tidak terbukti melakukan illegal fishing.

“Tapi dalam UU kita, salahnya sampai sekarang adalah masih ada yang belum diperbaiki, bahwa jika ada alat tangkap di atas kapal, itu tetap dianggap melakukan pelanggaran. Ini memang bukan pekerjaan yang sederhana. Butuh political will dari pemerintah yang benar-benar mendukung akan hal ini,” tambah Chandra Motik.

Baca Juga :  Chandra Motik : Menjadi Pribadi yang Tak Pernah Menyerah

Melihat kondisi tersebut, Chandra Motik sangat resah dengan kondisi hukum laut dan maritim di Indonesia. Selama 30 tahun ia membuat draft-nya, dari belum menikah sampai sudah menikah, memiliki anak dan memiliki cucu, tetapi belum selesai juga.

Banyak hal yang menurut Chandra Motik perlu menjadi perhatian serius dalam memperbaiki hukum laut dan maritm Indonesia. Mulai dari masalah keamanan kapal, mengenai navigasi dan alat bantu navigasinya, hingga masalah polusi. “Ditambah lagi dengan economic regulation, termasuk pelayaran dan pelabuhan. Nah, semuanya itu ada di dalam draft tersebut. Sehingga sudah komprehensif sekali. Dan kita waktu itu mendapat bantuan juga dari konsultan luar,” tambahnya.

Sayang draft itu hingga kini seperti menjadi setumpukan kertas. Chandra Motik begitu gemas melihat semua kenyataan itu. Bagaimana mungkin Indonesia sebagai negara maritim tidak memiliki hukum laut dan maritim yang memadai. Namun, ia masih memiliki secercah harapan denga terpilihnya kembali Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden untuk masa 2014-2019.

Chandra Motik dan Jusuf Kalla

Ia mengetahui persis bagaimana komitmen Jusuf Kalla dalam dunia maritim. Apalagi Presiden Jokowi juga memiliki obsesi untuk mengembangkan Poros Maritim, sehingga keinginan Chandra Motik untuk menegakkan hukum laut dan maritim di Indonesia dapat terwujud.

Chandra Motik: “Fight for the Justice”
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top