Tokoh

Menilik Lika – Liku Kisah Cinta Anna Mariana dan Tjokorda

Anna Mariana dan Tjokorda

MajalahMarsya.com – Mengarungi bahtera rumah tangga kurang lebih 17 tahun nyata tidak selamanya
berjalan mulus. Meski demikian, apapun halang rintang yang dilalui, pasangan DR. Hj. Anna Mariana, S.H., M.H., MBA dan H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H.,M.H., Msc pasti keduanya memiliki momen indah yang membuatnya kian lengket. Lantas, seperti apa lika-liku perjalan kisah cinta mereka dulu?

Diceritakan oleh Anna Mariana, awal perkenalannya dengan sang suami H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H., M.H., Msc ini karena keduanya satu profesi yaitu penegak hukum.” Pertemuan dengan suami berawal dari satu profesi. Dia sebagai aparat hukum dan saya sebagai penasehat hukum juga. Sama sama penegak hukum. Hanya beda lembaga. Dia di institusi, sedang saya swasta. Dan dimana sama sama di dunia yang sama, terus ketemu, berkonsultasi sama sama dengan urusan-urusan hukum. Dari situ kita nyambung,” tutur Anna.

Lebih lanjut, kata Anna, seringnya bertemu membuatnya timbul perasaan suka dan saling mengagumi satu sama lain.

“Awalnya, namanya jaksa dan pengacara pasti ada saat saat sering ketemu . Yang kata orang jawa bilang ‘witing trisno jalaran soko kulino’.

Jadi karena sering sering ketemu akhirnya satu sama lain saling lah. Dan bapak memang katanya, pas melihat saya pertama kali ketemu orangnya yang sangat gigih sangat kekeh kalau punya satu keinginan pasti harus tercapai bagaimana caranya. Termasuk dunia hukum. Ketika membela klien itu pokoknya harus menang bagaimanapun caranya. Itu yang pertama kali melihat saya simpati. Nggak pernah melihat selama ini perempuan yang orang hukum, gigih dan berani. Yang dia kenal saya sebagai orang yang kalau lihat dari tampilan orang yang halus lembut tapi fight. Itu yang beliau merasa kagum,” ungkapnya.

Baca Juga :  Eksotisme Tenun Sumba yang Memikat

Anna mengungkapkan didunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kita percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa pasti akan ada jalan keluar. Hal itu dirasa benar menurut Anna.

Sebab, semua bermuara dari bedanya keyakinan dirinya dan sang suami awalnya. Namun, saat itu Anna sangat yakin bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Dan ternyata yang terbaik untuknya adalah H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H., M.H., Msc.

“Karena awalnya kami beda latar belakang agama. Karna keyakinan saya pada Tuhan, kalau Tuhan menjodohkan, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bisa terwujud. Semua milik Allah dan kita jalanin saja. The show must go on. Kalau jodoh kan tidak kemana. Tapi saat itu tak ada terlintas dalam hati kalau bakalan jadi suami saya dan mau menjadi mualaf. Ternyata kehendak Tuhan semuanya. Dan sampai hari ini Alhamdulillah sudah berhaji juga. Sudah
hampir 20 tahun ini menjadi mualaf dari sebelum menikah. Kalau orang bilang sekarang PDKT, sejak pendekatan sudah mualaf. Pacaran kami hampir dua tahun kemudian kami menikah pada tahun 2000,” jelas Anna.

Bukan tanpa alasan Anna memilih Tjokorda sebagai tambatan hatinya. Anna menilai sosok pria yang berhasil meraih simpatinya ini adalah sosok pria yang cerdas, gaul, hummble, dan yang terpenting adalah seiman.

“Beliau smart. Jadi selalu bisa berdiskusi dengan saya dan selalu nyambung. Selalu bisa saling mengisi. Teman diskusi saya ketika belum menikah itu, yang saya suka adalah dia smart, menjiwai dan menguasai pada bidang hukum. Artinya dimana kita diskusi bisa nyambung. Dia juga bergaul, suka berkawan bagus, relasinya juga bagus,sehingga kami bisa saling support dan saling isi. Dan ketika dia menolong, membantu dan memberikan arahan yang saya perlukan dan butuhkan selalu siap dan bisa. Itu yang membuat saya merasakan
bahwa dia itu baik,” beber Anna tersenyum malu.

Dalam sebuah pernikahan, memiliki buah hati adalah harapan terbesar ketika kita sudah berumah tangga. Dan ketika sudah dipercayai untuk dititipkan anak, jelas menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Bagi Anna dan Tjokorda, pola asuh yang diterapkan olehnya kepada buah hati mereka tak lepas dari cara orang tuanya mendidik dirinya saat masih kecil.

Baca Juga :  Cuka Apel Si Obat Ajaib

Menurutnya, hal utama dan terpenting baginya dalam mendidik anak-anaknya adalah dengan memberi mereka bekal pendidikan agama, sebab ini merupakan pondasi dasar mereka ketika mereka sudah beranjak dewasa kelak.

’Saya sebetulnya, selama ini saya merasakan hasil pendidikan yang saya dapat dari orang tua, didikan dari orang tua dan eyang saya, dan itu saya terapkan pada anak anak saya. Karena apapun orang orang tua kita terdahulu itu simple sebenarnya mengajarkan anak itu. Dia memberikan kepercayaan full memberikan support dalam hal agama. Mendekatkan agama. Karena agama ini kan sebagai tiang dan pondasi. Selalu itu yang jadi bekal untuk saya.
Kenapa? Agama harus kuat karena itu merupakan pondasi. Karena kalau rumah pondasinya tidak kuat pasti akan rubuh cepat atau lambat diterpa angin. Nah kalau pondasi kita sudah kuat maka kemana pun dilepas. Ibarat kata dilepas dihutan pun kalau kamu sudah punya bekal yang cukup, orang tua nggak akan pernah khawatir. Hampir seperti yang orang tua kami terapkan bagaimana mendidik saya. Saya berusaha seperti itu karena memang itu pendidikan yang baik untuk anak cucu kelak. Saya pikir lagi, benar kalau kita nggak punya pondasi dan
iman yang kuat akan rapuh,” papar Anna.

Untuk masalah karir atau cita-cita sang anak, Anna mengaku tidak terlalu ikut campur mengenai cita-cita sang anak. Namun, hal itu tak lantas membuatnya membebaskan begitu saja buah hatinya. Anna mengungkapkan, diri selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk melakukan hal yang mereka sukai dan jangan setengah-setengah. Sebab, apapun yang dilakukan tidak berdasarkan keyakinan dan kesungguhan pasti tidak akan terwujud yang namanya cita-cita.

“Karena dia sering melihat seperti apa mungkin. Saya tidak pernah mengarahkan tapi saya selalu bicara kalau kamu ingin cita citamu tercapai atau apa yang menjadi cita citamu sepanjang kamu mampu ya dijalani. Asal kamu enjoy dan bener bener. Jangan setengah setengah. Karena menjalankan sesuatu yang tidak berdasarkan keyakinan dan kesungguhan pasti tidak akan tercapai apa yang kamu harapkan. Dia sempat setelah SMA bangku kelas 2 kelas 3 penjurusan bilang, mah saya yakin mau mengambil hukum. Saya bilang silahkan. Saya ingin seperti mama. Suatu saat kan mama bakalan tua dan ada generasi penerus. Lebih baik saya melanjutkan dan meneruskan apa yang dudah dirintis, apa yang sudah ada dibanding dia membangun sesuatu yang baru. Jadi sudah ada satu yang di bidang hukum anak saya. anak kedua saya kuliah beda jurusannya. Dia ambil di bisnis. Mungkin akan meneruskan dari sisi bisnisnya yang jalan selama ini. Jadi satu satulah pas. Saya bersyukur bahwasannya ada generasi-generasi penerusnya,” jelas Anna menutup

Baca Juga :  4 Terobosan Mooryati Soedibyo Dalam Hidupnya
Menilik Lika – Liku Kisah Cinta Anna Mariana dan Tjokorda
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top