Inspiratif

DR Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, Sang Penerobos Tradisi

sumber foto : tribunnews

MajalahMarsya.com – Tetap cantik di usia senja, energik dan selalu ingin memperdalam ilmu, menjadi bagian kecil dari gambaran sosok Mooryati Soedibyo, perempuan yang telah melahirkan banyak karya indah, salah satunya PT Mustika Ratu, yang begitu identik dengan dirinya. Kesuksesan dalam hidup maupun bisnisnya juga telah banyak menginspirasi generasi muda.

Tetap cantik di usia senja, tentu menjadi dambaan semua perempuan di dunia ini. Sosok DR Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, menjadi ikon perempuan yang selalu tampil anggun dan cantik meski usianya tak muda lagi. Karenaya, banyak perempuan yang ingin mendapatkan tips hidupnya yang mampu menjaga penampilan dan kesuksesan dalam bisnisnya.

Dengan segudang keahliannya, tak heran bila Sosok Mooryato Soedibyo dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga mancanegara, karena bisnisnya merambah keberbagai negara. Ia sangat identik dengan PT Mustika Ratu, yang telah melahirkan puluhan produk kosmetik asli Indonesia.

Mooryati atau biasa disapa Bu Moor identik pula dengan kontes Putri Indonesia. Cucu Pakubuwono X, Raja Surakarta ini juga dikenal sebagai tokoh pejuang emansipasi dan pemberdayaan perempuan di bidang politik dan kewirausahaan. Ia pernah menjadi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) sekaligus Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Meski usianya kini 90 tahun, tetapi Moor dikarunia kesehatan nan prima. Ia masih aktif dalam berbagai kegiatan. Bahkan masih terlihat cantik, seperti karya-karya cantiknya yang luar biasa.

Mooryati Soedibyo lahir di Villa Seneng Surakarta, Gedung Bondo Lumakso, Keraton Surakarta Hadiningrat, pada 5 Januari 1928. Ia merupakan cucu Paku Buwono X, Raja Kasunan Surakarta Hadiningrat (dari pihak ibu, GRA Kussalbiyah Poornomo Hadiningrat) dan cucu Bupati Demak, Kanjeng Pangeran Aryo HadiningratWanita (dari pihak ayah). Ayahanda Mooryati sendiri, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Purnomo Hadiningrat juga pernah menjabat sebagai Bupati Brebes yang memimpin pada periode 1920-1929. Mooryati adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Tiga kakaknya adalah BRM Kadirun, BRA Moortinah dan BRA Moortini, sedangkan tiga adiknya adalah BRA Moortiyah, BRA Moorsrinah dan BRM Djoko Mintoro.

Baca Juga :  Menilik Lika – Liku Kisah Cinta Anna Mariana dan Tjokorda

Pada usia 3 tahun ia tinggal di Keraton Surakarta. Di sana ia dididik dalam budaya kental ala keraton dan budaya Jawa. Selain mempelajarai bahasa Jawa halus, ia juga belajar tata krama, seni-tradisi merawat kesehatan dan kecantikan, peribahasa, dan filosofi Keraton. Mooryati juga telah dibiasakan minum jamu sejak kecil. Adalah Mbah Nyai Sri Mulki, seorang ahli herbalis wanita, abdi dalam keraton yang meramunya.

Mooryati menyelesaikan pendidikan di Pamardi Siwi dan Pamardi Putri, Sekolah Rakyat untuk para para putri keraton. Namun pada waktu ayahnya pensiun dan memilih tinggal di daerah Boyolali, Moor diminta sang ayah pindah sekolah ke Europesche Lagere Shool (ELS). Di sana, ia mengenyam pendidikan Kejawen atau bahasa sastra Jawa dan belajar Bahasa Belanda hingga kelas VII. Setelah Jepang masuk Indonesia, Moor meneruskan pendidikannya ke Pawiyatan Keterampilan Putri di Keraton di bawah kepemimpinan SDISKS PB XI bersama GKR Sekar Kedaton dan memperoleh mata pelajaran memasak, menyulam dari Ibu Wironegoro; pelajaran perawatan kesehatan, mengetik dan steno dari Ibu Lesnik Tondokusumo; pelajaran piano dari RM Bono Kamsi.

Ia juga belajar menjahit bagi diri sendiri yang memungkinkannya untuk dapat membuka usaha dan memberi pelajaran. Setelah keluar dari keraton ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Saraswati hingga meraih gelar D3 (1952). Setelah berkeluarga, ia mulai lagi mengikuti kuliah dan mengambil Jurusan Sastra Inggris di Universitas Terbuka hingga meraih gelar S-1, S2 dari UNS dan S3 dari Universitas Indonesia.

Seharusnya Mooryati menikah dengan pria pilihan orangtua atau keluarga sebagaimana kelaziman pada masa itu apalagi sebagai keluarga keraton. Akan tetapi, ketika itu, Mooryati justru berani menikah dengan pria pilihannya sendiri. Kata Mooryati, “Tradisi keraton selalu mempertimbangkan bobot, bibit dan bebet dalam memilih calon pendamping. Bobot adalah kedudukan tinggi, bibit adalah keturunan dan bebet itu materi.”

Baca Juga :  Penghargaan dari dalam dan Luar Negeri untuk Mooryati Soedibyo

Mooryati menikah dengan Sudibyo Hardjopertomo di Solo 8 April 1956. Dibyo, berasal dari keluarga sederhana dan keluarganya berdomisili di Klaten, Yogyakarta. Ia mantan tentara pelajar dan pernah jadi anak buah Letkol Soeharto. Seterusnya, ia menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), pernah kuliah di India dan Amerika Serikat, lalu menjadi ahli tekstil dan dipercaya mendirikan Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Dibyo-Mooryati dikarunia lima orang anak : Djoko Ramiadji, Putri Kuswisnuwardhani, Dewi Nur Handayani, Haryono Tedjo Baskoro dan Yulianingsih Warastuti, belasan cucu dan sejumlah cicit.

Mooryati mulai merintis usahanya tahun 1973. Pada mulanya hanya di garasi rumah. Ia meracik minuman beras kencur. Namun karena semangat, ketekunan, keyakinan dan kerja keras, Mooryati mendirikan perusahaan jamu dan kosmetik dengan bendera Mustika Ratu yang kini menjadi besar dan telah menjadi konglomerasi. Produk kosmetik dan jamunya dipasarkan di lebih dari 20 negara : negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa dan Timur Tengah.

PT Mustika Ratu Investama telah melahirkan PT Mustika Ratu Tbk., PT Mustika Ratu Buana International, PT Mustika Ratu Centre (Graha Mustika Ratu), PT Mustika Princess Hotel, Taman Sari Royal Heritage Spa, Java Princess dan Yayasan Putri Indonesia, yang telah mengembangkan usaha di berbagai bidang yang berbasis pada tradisi budaya bangsa Indonesia dan lainnya.

DR Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, Sang Penerobos Tradisi
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top