Inspiratif

4 Terobosan Mooryati Soedibyo Dalam Hidupnya

Memimpin Sidang Paripurna MPR Tahun 2004

MajalahMarsya.comTerobosan pertama di bidang pendidikan. Saat masih remaja, perempuan pada umumnya dan terutama putra-putri keraton, pada zaman itu, jarang menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Tradisi pendidikan di keraton untuk putra-putri hanya sampai sekolah menengah pertama, kemudian lanjut ke sekolah-sekolah kerajinan putri (huishoud school).

Setelah mulai dewasa dan nambut silaning akrami, bersiap diri memperoleh pendamping yang dianggap pantas berdasarkan tradisi bobot, bibit dan bebet oleh para sepuh. Ini juga dialami ibunda Mooryati dan generasi sebelumnya. Pada masa remaja, dirinya tidak tergesa-gesa mencari pendamping hingga saudara-saudara seusia-nya telah menikah. Ia yang pada waktu itu menikah di usia 28 tahun pun dianggap tidak muda lagi.

Keinginannya untuk maju dan belajar, sangat kuat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pamardi Siwi, ia lanjut Pamardi Putri, sekolah rakyat untuk para-putri Keraton. Sewaktu ayahnya pensiun dari jabatan bupati, ia memilih tinggal di daerah Boyolali. Kebetulan pula sang ayah dan ibu memintanya untuk pindah sekolah ke Europesche Lagere Shool (ELS). Di samping mengenyam pendidikan kejawen atau Bahasa Sastra Jawa, ia juga belajar Bahasa Belanda sampai kelas VII. Pada saat Eyang-nya SDISKS PB X wafat dan setelah Jepang masuk Indonesia, ia meneruskan ke Pawiyatan Keterampilan Putri di Keraton di bawah kepemimpinan SDISKS PB XI bersama GKR Sekar Kedaton. Di sana ia memperoleh mata pelajaran memasak, menyulam dari Ibu Wironegoro; pelajaran perawatan kesehatan, mengetik dan steno dari Ibu Lesnik Tondokusumo; belajar piano dari RM Bono Kamsi. Selanjutnya ia belajar menjahit untuk diri sendiri yang memungkinkan untuk dapat membuka usaha dan memberi pelajaran. Setelah keluar dari keraton Moor melanjutkan pendidikan di Universitas Saraswati dan meraih gelar D3 (1952). Setelah berkeluarga, ia kuliah lagi dan mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Terbuka untuk meraih gelar S-1.

Program master ditempuhnya di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, jurusan Sastra Inggris, Linguistik, Bidang Penerjemahan yang diadakan di perwakilan UNS di Jakarta. Setelah lulus program master 2002, ia langsung mendaftarkan diri di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, mengambil program doktoral. Kala itu Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia baru membuka program baru yaitu Program Doktoral Ilmu Manajemen Kekhususan Jurusan Manajemen Stratejik Angkatan Pertama yang berkuliah 2 kali dalam seminggu, tiap Sabtu dan Minggu.

“Dulu saya berminat masuk ilmu komunikasi, namun Prof Rhenald Kasali yang saat itu bertemu saya memberi nasihat untuk masuk jurusan Kekhususan Manajemen Stratejik yang baru dibuka. Meskipun saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi, Prof Rhenald sebagai Ketua Program Studi meyakinkan saya bahwa program itu cocok untuk saya yang telah menjalankan praktik bisnis ekonomi selama 40 tahun,” demikian Mooryati.

Dua anaknya Djoko Ramiadji dan Putri Kuswisnuwardhani sempat mengingatkan Mooryati agar memilih salah satu : melanjutkan studi atau mendaftarkan diri sebagai anggota DPD RI. Namun ia menyukai dua-duanya karena sudah menjadi tekad. Pernah satu kali pulang dari kampanye, ia masuk kelas dengan masih mengenakan kaos bernomor 8, nomor urutnya untuk ikut kampanye menjadi calon anggota DPD RI nonpartisan mewakili Provinsi DKI Jakarta hingga akhirnya terpilih menjadi anggota DPD RI sekaligus menjadi Wakil Ketua MPR RI.

Baca Juga :  Tokoh Bicara Tentang Mooryati Soedibyo

Saat melakukan penelitiaan dalam rangka menyusun studi disertasi, Mooryati melakukan wawancara langsung dengan para penerus dan pendiri perusahaan-perusahaan keluarga di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan dan kota-kota lainnya. “Saya menggunakan wawancara terbuka “seni structured” dan instrumen kuesioner terhadap lebih dari 170 responden di 5 kota besar. Spesifikasi responden diprioritaskan pada perusahaan yang CEO-nya merupakan penerus, syukur-syukur masih ada pendiri perusahaannya,” ungkapnya.

Setelah 3,6 tahun kuliah angkatan pertama Program Manajemen Stratejik, ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, tahun 2007. Dia ingat, waktu itu banyak teman mahasiswa program doktoral yang sebelum kuliah sudah mempunyai pengalaman dan kedudukan yang tinggi, antara lain Direktur Bank Indonesia, Mantan Ketua Bapepam, dirut perusahaan otomotif dan sebagainya.

Terobosan kedua yang dilakukan adalah saat memilih calon pendamping hidup. Tradisi keraton selalu mempertimbangkan bobot, bibit dan bebet. Bobot adalah kedudukan tinggi, bibit adalah keturunan dan bebet materi.

“Namun saya berpendapat secara pribadi dan memiliki pemikiran berbeda pada saat itu. Ini saya anggap melakukan penerobosan tradisi dalam memilih pendamping hidup. Saya berpendapat, bobot adalah pribadi, karakter dan perilaku seseorang; bibit berarti memiliki keluarga dengan reputasi yang baik; sedangkan bebet adalah yang sudah mandiri. Jelasnya, bebet lebih pada masa depannya yang terbuka untuk mencari kesempatan dan peluang. Sedangkan bobot lebih pada kualitas kepribadiannya. Karakteristik orang yang diajak hidup bersama harus bertanggung jawab, harus saling asah, asuh dan asih. Pendapat saya ini adalah terobosan yang pada hakikatnya suatu pendapat baru,” demikian Mooryati berpendapat.

Terobosan ketiga yang dilakukan sebagai putri keraton adalah menjalankan usaha atau berdagang. Pada umumnya, para putri yang sudah bersuami, hanya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Dirinya setuju dengan pendapat itu, tetapi itu jika keluarga sudah cukup materi. Ia lalu berpikir, bagaimana caranya melakukan sesuatu, bekerja, berusaha tanpa meninggalkan keluarga dan tugas rumah tangga.

Banyak anggapan dan pertanyaan, apa mungkin seorang putri Keraton bisa berbisnis? Sebab mereka sudah biasa hidup dilayani! Pendapat dipatahkan Mooryati. Ia anggap itu sebagai tantangan dan kesempatan. Ia ingin bekerja dan lebih dari sekedar bekerja yakni kerja keras dan siap melayani. Dirinya menerobos tradisi dengan mencari peluang merintis usaha dari tidak ada menjadi ada.

“Baik dari keluarga bapak maupun dari keluarga ibu, tidak ada yang memiliki latar belakang usaha. Ternyata saya bisa menerobos tradisi itu dan bisa menjalankan bisnis dengan cara yang bisa diterima keluarga. Apalagi dengan kemampuan teknologi sekarang, ya saya bisa memperluas usaha melalui berbagai kemajuan teknologi tanpa meninggalkan tempat,” ungkap Mooryati.

Ada juga pendapat bahwa salah satu yang menghambat untuk maju atau menjadi pengusaha adalah pemahaman tradisi alon-alon asal kelakon yang sering diartikan sebagai bekerja santai, tidak ngoyo (tergesa-gesa), asal tercapai. Ungkapan tersebut maksudnya atau seharusnya diartikan sebagai perlahan, hati-hati, bekerja dengan hati-hati untuk mencapai tujuan atau istilah lainnya “carefull but sure to achieve the goal.”

Baca Juga :  DR Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, Sang Penerobos Tradisi

Mooryati sudah merasakan, seseorang yang sudah terjun ke dunia bisnis, tidak pernah bisa berhenti. Kesulitan justru selalu menjadi peluang dan kesempatan. Kesulitan tidak membuat seseorang berhenti, sebaliknya justru kesempatan untuk mencari peluang dan mengatasi masalah, membuat inovasi dan kreativitas baru sehingga bisa lebih maju daripada sebelumnya. Dari keinginan untuk maju terus itulah tercipta semangat entrepreneurship (jiwa kewirausahaan) yang dimiliki seorang pengusaha sejati.

Terobosan keempat, Mooryati memasuki bidang politik. Pada generasi-nya, seorang perempuan sangat dibatasi. Dulu tidak banyak perempuan keraton semasa-nya yang masuk ke parlemen. Ia lalu menerobos tradisi tersebut dan merasa bahwa dirinya memiliki darah politik, baik dari sejarah Bapak dan sejarah Ibunda. Toh kakek, neneknya dahulu yang menjadi raja dan bupati telah berjuang untuk masyarakat yang dipimpinnya hingga berjuang demi kemajuan kaum perempuan.

Kata Mooryati, “Setelah saya menjadi anggota DPD, beberapa bulan kemudian, diadakan sidang paripurna untuk memilih pimpinan MPR yang diambil dua dari DPR dan dua dari DPD. Dalam pemilihan itu, saya terpilih menjadi Ketua MPR bersama Bapak AM Fatwa dan Bapak Aksa Mahmud. Ketua MPR terpilih adalah Bapak Hidayat Nur Wahid.”

Bagi generasi muda saat ini, mungkin zaman yang sudah berubah dari apa yang sudah dilaluinya dahulu itu sangat sulit dimengerti, lantaran saat ini sudah banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, berbisnis dan menduduki jabatan-jabatan penting. Banyak perempuan yang sudah mendapat kesempatan yang jauh lebih strategis. Setiap zaman memiliki kesempatan dan tantangan masing-masing. Perubahan dunia selalu membuka peluang dan kesempatan bagi semua orang untuk bisa ikut maju dengan cara belajar dan terus belajar.

Semua anggapan dan keraguan yang pernah muncul dapat diatasi dengan keinginan, tekad yang kuat dan kemauan keras untuk mewujudkan cita-cita yang baik secara konstitusional. Tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau bekerja keras untuk mewujudkan tekad dengan cipta, rasa, karsa dan karya (cita-cita, kemampuan, kemauan dan kekaryaan).

“Sekali pun sudah melakukan terobosan terhadap tradisi, salah satu yang saya pegang teguh tidak boleh dilupakan adalah family quality, yaitu kehidupan rumah tangga serta keutuhan dan kerukunan keluarga. Saya menerobos tetapi tidak meninggalkan memayu hayuning bawono – memperbaiki dunia. Tidak merusak lingkungan hidup, tetapi memperbaiki dunia, keluarga, lingkungan dan masyarakat. Menerobos tradisi tidak berarti meninggalkan nilai-nilai filosolfi, budaya, tradisi dan adat istiadat yang sangat luhur. Karena itulah yang utama, yang merupakan warisan budaya atau basic cultural heritage yang harus kita pertahankan,” urai Mooryati.

Lanjut Mooryati, dalam kehidupan ini, baik sebagai istri, ibu, pengusaha, pembibing dalam menjalani kehidupan sosial dan budaya, dirinya telah berusaha melakukan hal-hal yang terbaik dan berguna bagi sesama. Maka tibalah saatnya untuk memberikan motivasi dan pengalaman-pengalaman yang berharga untuk dibagikan kepada keluarga, teman-teman dan generasi muda. Kisah-kisah dalam buku biografi-nya memberikan motivasi yang inspiratif. Orang yang sudah berusia mapan memiliki banyak pengalaman hidup dan pengetahuan yang dapat memberikan semangat dan pelajaran sangat berharga bagi orang lain dan anak-anak muda.

Baca Juga :  Kelompok Dona Ines. Melestarikan Tradisi, Menjual Sikka Lewat Selembar Kain Tenun

Hidup ini menurutnya merupakan pelajaran yang penuh dinamika, tantangan, peluang dan kesempatan yang bisa kita capai bila kita mau belajar dan belajar. Long life learning, belajar seumur hidup tiada berhenti tentang hal-hal baru dan belum diketahui generasi muda sebelumnya. Ia ingin meninggalkan pelajaran untuk anak-anak dan generasi penerus untuk tetap bertakwa pada Allah SWT Tuhan yang Mahakuasa. Bersyukur tanpa henti karena semua yang didapatkan sesungguhnya bukanlah usaha kita sendiri melainkan karena ridha dan berkat Allah Swt itu sendiri.

Betapa pun kuatnya seseorang, pada akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa laju usia tidak dapat dicegah. Manusia pasti akan bertambah umur, kita sebut usia mapan. Orang asing menyebut the golden age atau senior citizen yang mempunyai banyak ilmu dan pengalaman. Bertambah usia tidak mungkin dapat dicegah. Kita semua akan mengalami serta mempersiapkan dan menyesuaikan diri. Bertambah usia berarti tidak mungkin dapat dicegah. Kita semua akan mengalami serta mempersiapkan dan menyesuaikan diri. Bertambah usia berarti daya tahan tubuh pun mengalami penurunan.

Usia ini pun akan berakhir dan manusia meninggalkan semua, apa pun yang dimilikinya. Pulang ke asal, manusia hanya membawa amal ibadahnya selama hidup di dunia. Itulah yang sering direnungkan Mooryati pada masa sekarang.

Mooryati tidak ingin perjuangannya ini sia-sia. Usaha melestarikan budaya dengan masyarakat sarana perawatan kesehatan dan kecantikan dari jampi-jampi yang telah berbasis sumber daya alam dan memiliki kearifan lokal yang telah dikenal secar turun-temurun dari generasi ke generasi, yang terbukti secara empiris, harus terus dibudidayakan secara berkelanjutan. Ia ingin dapat melaksanakan impiannya untuk melestarikana keluhuran budaya yang adiluhung yang memiliki nilai-nilai sangat luhur.

Ia juga ingin pelestarian tradisi dan tata karma, filosolfi hidup, bahasa, sastra, busana, kreasi-kreasi keindahan seperti tarian-tarian, seni-seni kerawitan, ukiran, seni pandai besi, seni arsitektur dan sebagainya yang tidak dapat disebut satu per satu yang diajarkan leluhur pada zaman dulu, harus terus dilestarikan dan disebarluaskan pda masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui usaha. Mooryati bertanya, bukankah ada yang mengatakan jer basuki mawa bea, bahwa semua keberhasilan membutuhkan pikiran, karya dan daya upaya dan dana. Pada masa itu, tidak banyak yang memahaminya, sehingga ia pun disebut sang penerobos tradisi.

Kata Mooryati, “Saya hanya mencoba mencari jalan keluar, mencari peluang dengan cara menerobos tradisi. Mencari peluang yang terbaik untuk menghadapi zaman harus terus diikuti dan kita perlu menyesuaikan diri. Budaya dan tradisi masih tetap utuh. Bukankah untuk melestarikan budaya, kita harus mengamalkannya? Sebagai contoh, ilmu ngadi saliro, ngadi busono atau merawat kesehatan badan, merawat keindahan penampilan dan busana dan tata karma atau perilaku dengan menghormati orang lain dapat diterima masyarakat luas. Saya yakin, salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan adalah tidak saja dengan mengamalkannya tetapi terus-menerus menggali dan mengembangkannya di sepanjang zaman, disesuaikan dengan keadaan.”

4 Terobosan Mooryati Soedibyo Dalam Hidupnya
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top