Fashion

Tenun dan Martabat Pengantin Sikka

Tenun dalam adat Sika bisa menjadi ukuran martabat seorang gadis Sikka.

MajalahMarsya.com – Dalam status sosial, adat dan budaya, hampir sebagian besar suku di Indonesia meletakkan perempuan pada tempat yang bermartabat. Filosofis ini berawal dari budaya masing-masing suku yang beranggapan bahwa dalam konsep kosmik, perempuan adalah bunda dari segenap kehidupan.

Salah satu suku di Flores meletakkan perempuan pada posisi yang bermartabat adalah suku Sikka di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Simbol-simbol yang menjadi ukuran martabat perempuan Sikka tidak hanya dapat dilihat dari mas kawin (belis) yang dimintakan kepada pihak keluarga laki-laki ketika proses pertunanganan dimulai tapi juga dari pakaian yang dikenakan perempuan Sikka ketika proses penikahan adat dilangsungkan.

Perihal itu di Sikka ada adagium yang berbunyi “Du’a utan(g)ling labu welin(g)” yang arti dan atau maknanya kurang lebih “kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga”. Adagium ini sebenarnya memendar banyak makna. Salah satunya seperti terpatri dalam setelan baju Kimang, yaitu sepasang baju yang dikenakan pengantin pada acara pernikahan adat dilangsungkan.

Kimang terdiri dari bawahan berupa sarung tenun ikat bermotif dan atasan berupa baju sulam yang dipadu dengan sejenis selendang yang disebut “dong”. Sebagai asesoris, pengantin akan mengenakan gelang tangan yang terbuat dari dari gading gajah bernilai jutaan rupiah, kalung leher, anting yang terbuat dari emas, dan “ala gadeja” (perhiasan penutup wajah dan hanya dikenakan oleh oleh perempuan yang masih perawan) yang terdiri dari kain dan benang¬benang yang dihiasi dengan emas yang juga mencapai jutaan rupiah.

Selanjutnya, tatanan rambut disanggul ke atas, diikat dengan gelang atau benang emas, dan pada rambut yang disanggul terdapat tiga tusuk konde emas (soking telu). Tiga tusuk konde ini melambangkan tiga tahap perkawinan yang dimulai dari persiapan, penentuan belis dan (sampai pada) upacara perkawinan itu sendiri.

Baca Juga :  Penghargaan dari dalam dan Luar Negeri untuk Mooryati Soedibyo

Ada pesona yang ditawar-pendarkan jika mengenakan Kimang, apalagi jika pasangan pengantin perempuannya masih perawan. Kalau nikah suci atau nikah mulia (ketika menikah pengantin perempuan masih perawan) perempuan yang mengenakan Kimang tampak lebih anggun, cantik dan menawan.

Sebaliknya, menurut orang Sikka, sekalipun dipoles dengan kosmetik jenis apa pun, tetapi jika yang mengenakan Kimang adalah perempuan yang sudah tidak perawan, akan tampak berbeda.

Secara moral dan kultural Kimang menunjukkan tentang tingkat kejujuran. Sebab sesungguhnya, tidak semua pasangan pengantin, secara khusus pengantin perempuan dapat mengenakan Kimang begitu saja. Kata orang-orang Sikka, ketika sang pengantin perempuan mengenakan Kimang, mata telanjang bisa tanggap melihat si pengantin perempuan apakah masih perawan atau tidak.

Kasat mata, hal itu dapat dilihat dari apakah pengantin perempuan mengenakan “ala gadeja” (perhiasan penutup wajah) atau tidak ketika pernikahan adat dilangsungkan. Jika “ala gadeja” dikenakan pada pengantin perempuan ketika upacara pernikahan dilangsungkan maka hal itu menunjukkan pengantin perempuan masih perawan. Sebaliknya, apabila tidak dikenakan, maka perempuan itu tentu sudah tidak gadis lagi.

Persoalan pengenaan “ala gadeja” ini tentu tergantung dari kejujuran sang pengantin perempuan, apakah masih gadis atau tidak. Namun, poin terakhir ini tentu hanya dapat diukur dengan niat baik dan kejujuran sang pengantin. Namun pula, orang Sika meyakini mereka dapat melihat dengan jelas nilai tersebut.

Tenun dan Martabat Pengantin Sikka
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top